Experience Islam in The West: The Art & Science of Living Islam (Part I)

dimuat di The Urban Muslimah, 19 Maret 2012

Belum lama ini Alhamdulillah saya mendapat kesempatan yang luar biasa untuk bertemu dengan tiga orang yang menginspirasi dalam acara yang diselenggarakan di Universitas Al-Azhar. Acaranya berjudul Experience Islam in the West: The Art and Science of Living Islam. Konsep dari acara ini adalah sharing tentang bagaimana para Muslim di luar negeri -khususnya di Amerika Serikat dan Australia, negara-negara di mana Muslim adalah minoritas- menjalani kehidupan mereka.

Tokoh inspirasional yang sharing pertama kali adalah Shaykh Alauddin Elbakri. Shaykh Ala ini adalah pemimpin komunitas Muslim di Silicon Valley, California, AS. UMers pastinya tau kan tentang Silicon Valley? Shaykh Ala cerita, kalau beliau jalan ke masjid, pasti melewati perusahaan-perusahaan yang namanya Google, Apple, Microsoft, dsb. Shaykh Ala juga bercerita, karena nilai tanah dan bangunan di Silicon Valley mahal banget, masjid sederhana yang beliau dan komunitasnya bangun di Silicon Valley itu nilainya sekitar 8 juta dolar alias hampir 80 milyar rupiah (!!!). Hebatnya lagi, dana sebesar itu terkumpul hanya dari 150 keluarga Muslim yang tinggal di Silicon Valley. Kebayang kan betapa tingginya tingkat pendapatan di Silicon Valley?

Kalau kekayaan berbanding lurus sama kebahagiaan, logikanya harusnya orang-orang di the Valley lebih bahagia dibandingkan orang-orang Amerika lain, apalagi sama kita-kita di Indonesia. Tapi kenyataannya nggak seperti itu. Shaykh Ala cerita, kalau beliau sering banget diundang sebagai corporate motivator (seperti Mario Teguh) atau konseling anak-anak high school yang bermasalah dengan orangtuanya. Dan undangannya bukan dari lingkungan Muslim aja loh, malahan lebih sering yang ngundang Shaykh Ala adalah kalangan umum/non-muslim. Bahkan, gak jarang juga Shaykh Ala diundang untuk bicara di gereja atau sinagog (tempat ibadah orang Yahudi).

Intinya, Shaykh Ala mengingatkan bahwa kebahagiaan itu ada di dalam hati kita sendiri. Dan seperti yang dikatakan di Al Qur’an, hati itu cuma bisa tenang kalau mengingat Allah. Yang menarik, Shaykh Ala suka ‘meresepkan’ ayat Al Qur’an kepada ‘pasien’ konselingnya.

Masalah kamu kan X. Solusinya baca surat ini ayat segini dan segini.

Tapi saya bukan Muslim, Shaykh.

Ya nggak apa-apa, Al-Qur’an ini buat semua orang, bukan Muslim saja..

Ooh..

Sharing Shaykh Ala mengingatkan saya bahwa untuk memperlihatkan keindahan Islam kepada alam semesta, kita harus memperindah hati kita terlebih dahulu, dan mencintai Allah dan Rasul-nya sepenuh hati. Shaykh Ala bilang, ibarat tripod, kaki penyangga Islam itu ada tiga: Rukun Islam, Rukun Iman, dan Ihsan. Ihsan itu akar katanya dari “hasan” yang artinya indah. Sebagai seorang Muslim, penampilan kita harus indah, perbuatan kita harus indah, dan hati kita pun juga harus indah.

Saking indahnya sharingnya Shaykh Ala, sampai-sampai Peter Gould yang duduk di sampingnya pun menarik napas haru🙂

Di artikel berikutnya, saya akan melanjutkan tentang sharing Shaykh Ala dan tokoh inspirasional yang kedua yang barusan saya sebut namanya: Peter Gould (hint hint: dia masih muda, keren, mualaf, dan hasil karya seninya cakeeeep luar biasa, Subhanallah). Lalu ada juga cerita tentang tokoh inspirasional ketiga yang hadir juga di acara Experience Islam in the West ini.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: