Zzzt… Antara Kabel Otak dan Sebotol Bedak

Español: Logo FOX CRIME Español: Logo FOX CRIME

Inspirasi dari nonton Fox Crime

Inspirasi seringkali datang dari tempat-tempat aneh. Pagi ini saya sedang nonton sebuah film detektif di Fox Crime dan menjadi terinspirasi untuk belajar bahasa Arab, hari ini juga. Padahal cerita filmnya sama sekali tidak ada bau-bau Arabnya. Saya cuma terkesan dengan misteri dalam film itu yang dijalin dengan amat rapinya, sehingga membuat saya berpikir, kok bisa sih penulis ceritanya demikian pintar sampai bisa membuat cerita yang menjalin rapi kepahaman yang tinggi akan jiwa manusia, hukum, dan sastra? Siapapun ia, pasti pengetahuannya luas. Dan film ini cuma satu episode dari serial ini, yang cuma satu dari banyak serial lain di televisi. Yang artinya di Hollywood sana banyak sekali orang pintar. Itu baru di Hollywood, belum di Silicon Valley. Ngomong-ngomong, produser film ini adalah orang India. Masak sih cuma orang Barat dan India saja yang pintar? Ujung-ujungnya, menonton film itu membakar semangat saya untuk mempelajari kemampuan baru, hari ini juga, supaya saya tidak kalah dengan orang Barat dan India. Pilihan saya langsung jatuh pada bahasa, karena bahasa adalah jembatan komunikasi, dan melalui bahasa kita dapat melihat warna budaya lain. Dan saya memilih bahasa Arab karena dengan itu saya bisa memahami Al-Qur’an, juga memahami berbagai aspek budaya lain Timur Tengah.

Aneh ya cara otak kita bekerja? Penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan manusia itu bergantung pada 3 hal: genetika, gizi, dan stimulasi. Stimulasi membuat syaraf-syaraf otak kita saling berhubungan dan berkomunikasi. Semakin banyak hubungan dan komunikasi di otak seseorang, semakin cerdas orang tersebut. Makanya, dokter selalu menyarankan para orangtua untuk menyentuh dan berbicara dengan bayi yang baru lahir, bahkan sejak dalam kandungan, untuk menstimulasi sistem syarafnya. Pernah dengar kalau anak yang jago main musik biasanya juga jago matematika? Itu karena sistem syaraf saling berhubungan dan mempengaruhi, sehingga stimulasi di satu sisi kecerdasan pasti juga akan mempengaruhi kecerdasan yang lain.

Itulah makanya juga, salah satu prinsip saya dalam mendidik anak adalah meminimalkan larangan. Asalkan tidak bertentangan dengan agama dan moralitas atau membahayakan dirinya dan orang lain, ayo, coba saja semuanya.

Tadi malam misalnya, suami saya sedang bekerja di laptop, ketika ia menengok ke lantai, matanya langsung membelalak dan keluar suara beroktaf agak tinggi,:

“Ya Allah Bintaaangg… Main apa itu?!?! Kok Mamanya diem aja sih?!?”

Saya cuma ketawa. Dari tadi saya sudah tahu kalau si bocah sudah menuangkan satu botol besar body lotion ke lantai dan mainannya. Botol madu Winnie the Pooh kini penuh berisikan cairan lengket warna putih. Biasa saja kok. Kemarin dia baru saja menghabiskan satu botol bedak dan sampo yang masih penuh untuk bubble bath. Minggu sebelumnya sabun mahal saya yang jadi korban. Belum lagi tumpukan cucian saya yang bertambah karena baju-baju bagusnya ia pakai untuk “lap mobil”. Papanya kebetulan tidak tahu karena saat kejadian berlangsung sedang di kantor.

Buat saya, apalah nilai sebotol sampo, sabun, dan bedak dibandingkan nilai hubungan kabel di dalam kepala kecilnya yang sedang berkembang? Apalagi melihat senyumnya terkembang penuh percaya diri karena ia bisa “cuci mobil kaya Papa” dan “masak sama Uma”. It’s priceless! Ketika ia tumbuh besar pun, Insya Allah saya tidak akan melarang ataupun memaksanya menekuni ilmu atau profesi tertentu. Selain alasan-alasan yang sudah saya sebut di atas, saya juga percaya kalau setiap orang memiliki jalur, perjalanan dan misi kehidupan masing-masing di dunia. Profesi apapun–ilmuwan, pengusaha, sales, sutradara–saya yakin semuanya bisa membawa kontribusi positif untuk dunia ini. Everyone can make a difference.

Mungkin sudah pernah dengar sebelumnya: puncak peradaban Islam dahulu dicapai ketika tidak ada pengkotak-kotakan di dalam ilmu, karena semua ilmu jika diniatkan akan menjadi jalan menuju Tuhan. Ibnu Rusyid dan banyak rekan sejawatnya adalah ulama sekaligus ilmuwan. Masa Renaissance di Eropa pun mengenal Da Vinci yang insinyur sekaligus seniman. Di abad sekarang, ada orang-orang seperti Bobby Chinn, chef keturunan Mesir dan Cina-Amerika yang menghabiskan masa sekolah di Inggris, bekerja di Wall Street, pernah jadi stand-up comedian dan akhirnya membuka restoran di Vietnam. Ibarat jamuan pesta, Tuhan sudah menyediakan 1001 macam jalan dan cara untuk mengenalNya. Mengapa kita harus membatasi anak-anak, juga diri kita, untuk mengeksplorasi jalan-jalan tersebut?

Semoga jadi pertanyaan yang menggelitik. Sudah dulu ya, saya mau membereskan rumah, kemarin si kecil mengangkut potongan tempe dengan truk mainannya!

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: