Benar, Baik dan Indah

Tidak ada yang sia-sia.
Semua perbuatan baik, sebagaimanapun kecilnya,
pasti diganjar olehNya.

Dan ketika Ia yang Maha Perkasa berkenan akan tindakan kita, maka alam semesta pun tunduk, ikut mendorong kita ke tujuan tersebut.

Lalu seakan-akan dari tubuh kita tumbuh sayap-sayap tak terlihat yang melayangkan kita menuju impian-impian terindah, di dunia dan nanti.

Syaratnya:
1. Niat harus lurus, hati harus bersih-lakukan dengan tujuan utama meraih persetujuanNya.

2. Kemudian, cara harus baik-pastikan karya yang kita buat memenuhi 3 kriteria: BENAR, BAIK dan INDAH.

3. Dan yang terakhir (serta seringkali tersulit): berserah diri akan hasil akhir yang kita terima. Tugas kita hanya berkarya, se-BENAR, BAIK dan INDAH mungkin. Biarkan saja Yang Maha Indah memilihkan hadiah terindah dan terbaik untuk kita, pada momen yang paling tepat.

And when it happens…

What a sweet, sweet surprise.

# # #

*catatan kecil pagi 6 Ramadhan 2012

Ssst… Your Secret Admirer

Berapa banyak aku harus memanggilmu?

Ketika kau mencinta, pastinya kau ingin mengirimi si dia bunga kan?

How many? A dozen red roses? Maybe two?

I have sent you a world of roses, orchids, jasmines, lilies, you name it… And still you dont answer me…

Padahal, hanya kau yang aku beri penglihatan untuk warna. Hanya kau yang bisa melihat lukisanku merah, biru, ungu, jingga dalam warna-warna yang nyata. Keindahan semua bunga itu? Tak ada yang bisa melihatnya selain kau. Tak ada makhluk selain kau yang kucintai begitu dalam…

Tak bisakah kau melihat cintaku itu?

Ketika kau mencinta, dengan bahagia kau kirimi si dia coklat kan?

Merek apa? Godiva? Ferrero-Rocher? Toblerone?

Bukankah aku yang mengirimu semua coklat itu? Dan kukirimu juga semua buah-buahan yang kau suka, dan kulengkapi engkau dengan indera perasamu sehingga kau bisa mengecap setitik tanda cintaku itu. Seandainya kau tahu, makhluk-makhlukku yang lain tak ada yang bisa merasakan manis, pedas, asam, asin sepertimu, sayang…

Cuma kau yang kulimpahi semua kasih itu. Menolehlah padaku. Tak bisakah kau lihat cintaku padamu?

Ketika kau mencinta, dengan gembira kau tulisi ia surat cinta, puisi, kau gubah lagu untuknya… Ya kan?

Aku sudah mengirimu ratusan puisi dan surat cinta, my love. Puisi dan surat cinta abadi, yang akan kujaga hingga akhir hayatmu, bahkan hingga akhir zamanku.

Seandainya saja kau sempatkan sedikit saja waktu untuk membaca surat-suratku itu, pasti kau ‘kan tahu betapa aku mencintaimu…

Selayaknya surat-surat cinta yang kau tulis kepada ia yang kau cinta, surat cintaku pun sama:

Kau awali dengan: ‘Dear Love’.
Aku awali dengan namaku, Sang Maha Pencinta:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kau akhiri dengan menutup amplop, dan menulis nama yang kau cinta di atasnya. Aku pun begitu, menulis nama yang kucinta di akhir suratku:

… minal jinnati wannaas.

Cintailah aku. Sungguh, aku sangat cinta kepadamu.

Your (Not-So-Secret) Admirer.

# # #

Disarikan dari kuliah Sheikh Alauddin Elbakri, 26 Februari 2012.

Saving Mother Earth with Baby Steps

Published on Aquila Style website, April 2012.

Simple ideas for a greener Earth — if a busy mumpreneur can do it, so can you! By Afia Fitriati.

The stresses of modern life demand a lot from us ladies. As if balancing a myriad of work and family duties were not hard enough, society also demands that we stay abreast of social and political issues, learn the various features of our smartphones and keep our composure at all times and under any condition. Then there is the issue of green living. With our super-hectic lifestyles, how can we make time to save the Earth? The answer, my dear, is by taking one baby step at a time. Here is a list of simple, Mother Earth–approved acts that we can do every day to help ensure a better environment for our kids.

1. Use fewer plastic bags

When you make that impulse purchase for an ice cream at your convenience store, forego the plastic bag. The production of plastic bags burns through barrel after barrel of oil, a scarce resource that is getting more expensive every day. Up to a trillion plastic bags are consumed worldwide each year, millions of which end up in litter streams and landfills. Pass on the plastic whenever you can. Even better, go a step further: Buy one of those chic, Earth-friendly bags made of hemp or other renewable materials, bring it whenever you shop, and you’re on your way to saving the earth — in style.

2. Increase your air conditioner temperature

Set your air conditioner at a comfortable temperature. If you need to wear a sweater to keep warm, chances are you should turn your air conditioner up a few degrees. An adequate temperature is 25°C, which also happens to be the most energy-efficient setting. By doing this, you will still enjoy a cool comfort while also conserving electricity and saving money.

3. Check your tyre pressure

Keeping your tyres inflated to their optimal pressure will improve your vehicle’s fuel efficiency by up to 3.3 percent, according to the US Department of Energy. Considering that you only need to do this once every few travelling days, 3.3 percent is a great bargain. You won’t get your hands dirty if you keep your car clean, and you’ll travel more safely and comfortably too. Not sure what pressure is best for your car? Check the information label on the edge of your vehicle’s driver-side door.

If we all take our individual baby steps we can make a collective difference

4. Unplug your charger devices

We are all guilty of this: leaving our mobile phone charger plugged in as we hastily stash our phone in our handbags. It may surprise you, but your charger still draws power when plugged in—even if the device is turned off. Although the energy wasted on one charger may seem miniscule, multiply that by the number of other chargers, devices and appliances around the world, and the amount becomes significant. If we all take our individual baby steps we can make a collective difference. Now you understand why those little fanged plugs are often referred to as ‘energy vampires’.

5. Shop online

There is such a thing as a win-win situation in the world of shopping — online shopping, that is. You get to window-shop in the comfort of your pajamas, have your purchases delivered to your door and be kind to Mother Earth at the same time. Shopping online uses less fuel than driving in your car from mall to mall. Isn’t that nice? And while you’re going clickety-click, remember to opt for organic, eco-friendly products.

When it comes to saving our beloved Earth, every bit counts: every Earth Day, every Earth Hour, every energy-saving lightbulb, every time you remember to turn off the tap while brushing your teeth. Doing good deeds in small portions is also encouraged in Islam, as Prophet Muhammad (peace be upon him) said, ‘The (good) deeds most loved by God are those that are done regularly, even if they are small.’ (Bukhari and Muslim, Fiqh-us-Sunnah, Volume 2, Number 24).

As God loves small deeds, so does our Mother Earth.

Experience Islam in The West: The Art & Science of Living Islam (Part 3)

dimuat di The Urban Muslimah, 2 April 2012

Sosok ketiga dan terakhir yang saya ingin bagi ceritanya dalam seri ini adalah Ibu Rani. Beliau adalah sosok yang berjasa menghadirkan Shaykh Ala dan Peter Gould ke Indonesia.

Apakah Ibu Rani punya bisnis event organizer? Tidak. Ibu Rani adalah seorang ibu rumah tangga yang menetap bersama keluarganya selama beberapa tahun terakhir di Amerika Serikat. Lalu, untuk apa Ibu Rani repot-repot mengundang Shaykh Ala dan Peter Gould ke Indonesia? Alasannya sederhana saja : Ibu Rani prihatin mendengar berbagai kondisi sosial di Indonesia dan ingin melakukan sesuatu untuk menghidupkan kembali semangat peduli di masyarakat Muslim Indonesia, khususnya yang masih muda-muda. Tercetuslah ide untuk menghadirkan tokoh-tokoh yang bisa menginspirasi anak muda. Kebetulan, Shaykh Ala adalah imam masjid di lingkungan tempat tinggal Ibu Rani di California dan beliau pernah berkorespondensi dengan Peter Gould via email. Ibu Rani lalu meminta kedua tokoh tersebut untuk singgah ke Indonesia. Alhamdulillah, Shaykh Ala dan Peter bersedia. Seluruh biaya tiket dan akomodasi Shaykh Ala dan Peter Gould selama tinggal di Indonesia ditanggung dari tabungan Ibu Rani dan keluarganya.

Ide sederhana yang dilakukan tanpa pamrih, tanpa berpikir dua kali. Just because she cares.

Tetapi berkat jerih payah Ibu Rani, ratusan orang terinspirasi dan tersentuh oleh Shaykh Ala dan Peter Gould saat acara di ITB, UI, Al Azhar dan Paramadina. Berapa banyak amal baik yang akan tercipta dari jiwa-jiwa yang terinspirasi ini? Belum lagi ratusan pembaca yang (semoga) juga terinspirasi melalui rangkaian artikel ini. Terbayangkah besar timbangan amal shaleh kelak dengan berinisiatif melakukan kegiatan positif seperti ini? Dan kalau lebih banyak lagi orang yang peduli dan beramal soleh melalui tindakan nyata, betapa Indonesia akan jadi lebih baik?

Ide spontan nan teladan Ibu Rani mengingatkan saya pada kata-kata Shaykh Ala,

“Ibarat tripod, tiang penyangga Islam itu ada tiga: Rukun Islam, Rukun Iman, dan Ihsan. Namun saya suka menambahkan satu lagi, yaitu action–bertindak, melakukan sesuatu… Di Amerika, setiap harinya puluhan, bahkan ratusan orang Amerika masuk Islam. Tapi, saya lebih senang jika mendengar Muslim Indonesia menjadi Muslim yang baik, Muslim yang sesungguhnya.”

UMers, amal baik apa yang bisa kita lakukan hari ini? Rencana besar apa yang bisa kita mulai wujudkan mulai hari ini? Yuk, segera dilakukan… jangan tunda lagi.

Let’s do it now. In the name of Allah Subhanahu wa Ta’ala.

How to… Empower Your Business

Deutsch: Chanel-Logo

don't you want your brand to be this recognizable?

Published in Aquila Style, March 2012

So, you’ve finally launched your dream biz. You have a great product. You’ve chosen a name and a fancy logo, planned your budget and started your promotions. And voila! Customers begin to buy your products or use your services. You feel good about it – but you’re not quite satisfied. Wondering how to get your startup to the next level? Whether you are running an online boutique, a neighbourhood cafe or that little beauty salon around the corner, here are a few tips that will help you empower your business.

Let’s start with your brand.  In a world of parity, your brand can be your greatest asset. Ideally, you’ll want your product to be the Jimmy Choo of high heels or the Birkin of handbags. To achieve that, there are two basic rules that you must go by: be different and constantly deliver on your promise. The idea is simple: The human memory recalls distinctive things more easily, and, as your schoolteacher would likely have told you, repetition helps the mind to remember. A distinctly different, positive impression of your business, repeated over and over, will place you in a top spot in the minds of your customers.

When you think of a luxe evening bag, the Chanel 2.55 springs to mind. It has many ‘X’ factors that make it memorable. What unique features or experiences can you add to your offerings? It doesn’t have to be anything costly. In fact, it doesn’t even need to cost a penny, as long as it’s memorable. A hand-written thank you note with every online order, a polka dot bow tie for your server or fresh ginger tea for your salon’s customers: the sky’s the limit.All the funky bow ties in the world will neither impress your customers nor improve your brand if you serve soggy fries, though. So make sure your business is able to deliver high quality service consistently. Create systems that will help you minimise errors and operate more efficiently. Spanish fashion retailer Zara, for example, has become one of the most successful brands in the world in part because its system allows the company to deliver the latest fashion trends speedily.
In addition to being a strong brand, you’ll need to grow your customer base. More people around the world now spend more and more time interacting on social media, so taking advantage of social media platforms can benefit your customer base exponentially. You just need to spend time on sites that you probably visit already: Facebook and its social media sisters. This time, however, focus on building your brand. Create conversations around your products and services. Make them entertaining, fun and informative. Share tasteful jokes and inspiring stories. Ask intriguing questions. Host contests and giveaways. If your business is a bakeshop, dish out a few baking tips on your Twitter timeline. Your followers will appreciate it, and guess who they’ll remember the next time they need to order a batch of cupcakes? Finally, don’t forget to have fun. This will give you an extra dose of energy – essential towards running your business well. So, go ahead: put on that smile, open your mind and empower your business with a creative attitude. Perhaps a polka dot bow tie, too.
Afia R Fitriati has created and managed a number of successful businesses (and several failed ones). She lectures on Islamic Marketing at Paramadina Graduate Schools in Jakarta, Indonesia and likes to handwrite her thank-you notes.

Experience Islam in The West: The Art & Science of Living Islam (Part 2)

dimuat di The Urban Muslimah, 26 Maret 2012

Minggu lalu, saya sudah share sedikit kuliah dari Shaykh Alauddin Elbakri, seorang pendakwah dan pemimpin komunitas Muslim dari Saratoga (Silicon Valley), AS. Sebenarnya banyak cerita seru dan menarik lain yang di-share oleh Shaykh Ala. Salah satu yang paling berkesan adalah tentang tamu bertato. Suatu hari, ada motor gede Harley Davidson tiba-tiba parkir di depan masjid Saratoga. Pengendaranya berbadan kekar dan tatonya full dari ujung kepala sampai ujung kaki! Semula, Syakh Ala mengira orang berpenampilan sangar ini mau numpang memakai toilet masjid. Eh ternyata, dia malah masuk ke mesjid dan menyapa Syakh Ala, “Assalamu’alaikum!”

Haaah… Si manusia bertato ternyata saudara se-Islam!

Cerita serupa pernah terjadi di jaman Rasulullah SAW. Sebelum Umar bin Khattab masuk Islam, Rasulullah (SAW) pernah berkata bahwa keledai Umar akan masuk Islam lebih dulu dibandingkan Umar. Kata-kata ini untuk menggambarkan betapa terasa mustahilnya Umar bin Khattab masuk Islam saat itu. Seperti yang kita ketahui, Umar bukan saja kemudian masuk Islam, tetapi juga menjadi pejuang Islam dan salah satu khalifah. Hikmah yang bisa ditarik dari kedua cerita ini adalah: Allah Maha mengetuk hati manusia. Jadi, jangan mudah men-judge seseorang.

Selanjutnya saya mau sharing pengalamannya Peter Gould. Di Australia, Peter dikenal sebagai seorang desainer grafis dan digital artist. Peter lahir dan besar di keluarga sekuler yang tidak terlalu peduli pada urusan-urusan religi. Semasahigh school dan kuliah, Peter tertarik dengan kehidupan teman-teman muslimnya, yang menurutnya memancarkan inner happiness.Selama beberapa tahun Peter mempelajari Islam, hingga akhirnya di bulan Ramadhan tahun 2002 ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua bulan setelah itu, Peter menikah dengan sahabat SMA-nya yang memperkenalkannya pada Islam (…jangan patah hati ya UMers :-) ).

Setelah menjadi seorang Muslim, Peter sempat mengalami masa-masa galau dengan profesinya. Sebagai seorang desainer grafis di dunia periklanan, Peter seringkali diminta untuk mengerjakan proyek-proyek desain yang tidak sejalan dengan keyakinan barunya, seperti mendesain iklan untuk minuman beralkohol, iklan-iklan yang ‘menjual’ wanita, dan sebagainya. Hal ini membuat Peter penasaran untuk belajar lebih jauh: bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang desain, seni, dan kreativitas?

Untuk mencari jawaban dari pertanyaannya, Peter lalu traveling ke berbagai negara muslim : Maroko, Turki, Saudi Arabia, dan lainnya. Dari perjalanannya, Peter melihat betapa beragamnya seni Islam yang ada di dunia dan bagaimana keindahan seni dapat mengetuk hati umat alias digunakan untuk berdakwah. Sebagai contoh, UMers tahu nggak kalau Taj Mahal di India dan istana Alhambra di Spanyol sebenarnya adalah warisan seni arsitektur Islam? Hingga kini, jutaan turis datang dari seluruh penjuru dunia untuk mengagumi dua situs tersebut.

Dari Peter Gould, saya mengambil pelajaran bahwa jika kita menggunakan bakat yang Allah berikan untuk berkarya di jalan-Nya, Ia akan memudahkan jalan untuk kita dan membalasnya dengan berlipat ganda. Peter Gould dapat berkarya dengan istiqamahdi dunia advertising & creative design yang glamor, penuh godaan materi, kompetitif, serta di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim pula. Bagaimana dengan kita?

Lebih lengkap tentang Peter Gould & karya-karyanya, silahkan UMers mengunjungi www.peter-gould.com.

Masih ada satu bagian dan satu tokoh inspirasional lagi dari seri Experience Islam in the West ini. Tungguin ya, UMers :-)

(sumber foto & video : http://www.peter-gould.com)

Experience Islam in The West: The Art & Science of Living Islam (Part I)

dimuat di The Urban Muslimah, 19 Maret 2012

Belum lama ini Alhamdulillah saya mendapat kesempatan yang luar biasa untuk bertemu dengan tiga orang yang menginspirasi dalam acara yang diselenggarakan di Universitas Al-Azhar. Acaranya berjudul Experience Islam in the West: The Art and Science of Living Islam. Konsep dari acara ini adalah sharing tentang bagaimana para Muslim di luar negeri -khususnya di Amerika Serikat dan Australia, negara-negara di mana Muslim adalah minoritas- menjalani kehidupan mereka.

Tokoh inspirasional yang sharing pertama kali adalah Shaykh Alauddin Elbakri. Shaykh Ala ini adalah pemimpin komunitas Muslim di Silicon Valley, California, AS. UMers pastinya tau kan tentang Silicon Valley? Shaykh Ala cerita, kalau beliau jalan ke masjid, pasti melewati perusahaan-perusahaan yang namanya Google, Apple, Microsoft, dsb. Shaykh Ala juga bercerita, karena nilai tanah dan bangunan di Silicon Valley mahal banget, masjid sederhana yang beliau dan komunitasnya bangun di Silicon Valley itu nilainya sekitar 8 juta dolar alias hampir 80 milyar rupiah (!!!). Hebatnya lagi, dana sebesar itu terkumpul hanya dari 150 keluarga Muslim yang tinggal di Silicon Valley. Kebayang kan betapa tingginya tingkat pendapatan di Silicon Valley?

Kalau kekayaan berbanding lurus sama kebahagiaan, logikanya harusnya orang-orang di the Valley lebih bahagia dibandingkan orang-orang Amerika lain, apalagi sama kita-kita di Indonesia. Tapi kenyataannya nggak seperti itu. Shaykh Ala cerita, kalau beliau sering banget diundang sebagai corporate motivator (seperti Mario Teguh) atau konseling anak-anak high school yang bermasalah dengan orangtuanya. Dan undangannya bukan dari lingkungan Muslim aja loh, malahan lebih sering yang ngundang Shaykh Ala adalah kalangan umum/non-muslim. Bahkan, gak jarang juga Shaykh Ala diundang untuk bicara di gereja atau sinagog (tempat ibadah orang Yahudi).

Intinya, Shaykh Ala mengingatkan bahwa kebahagiaan itu ada di dalam hati kita sendiri. Dan seperti yang dikatakan di Al Qur’an, hati itu cuma bisa tenang kalau mengingat Allah. Yang menarik, Shaykh Ala suka ‘meresepkan’ ayat Al Qur’an kepada ‘pasien’ konselingnya.

Masalah kamu kan X. Solusinya baca surat ini ayat segini dan segini.

Tapi saya bukan Muslim, Shaykh.

Ya nggak apa-apa, Al-Qur’an ini buat semua orang, bukan Muslim saja..

Ooh..

Sharing Shaykh Ala mengingatkan saya bahwa untuk memperlihatkan keindahan Islam kepada alam semesta, kita harus memperindah hati kita terlebih dahulu, dan mencintai Allah dan Rasul-nya sepenuh hati. Shaykh Ala bilang, ibarat tripod, kaki penyangga Islam itu ada tiga: Rukun Islam, Rukun Iman, dan Ihsan. Ihsan itu akar katanya dari “hasan” yang artinya indah. Sebagai seorang Muslim, penampilan kita harus indah, perbuatan kita harus indah, dan hati kita pun juga harus indah.

Saking indahnya sharingnya Shaykh Ala, sampai-sampai Peter Gould yang duduk di sampingnya pun menarik napas haru :)

Di artikel berikutnya, saya akan melanjutkan tentang sharing Shaykh Ala dan tokoh inspirasional yang kedua yang barusan saya sebut namanya: Peter Gould (hint hint: dia masih muda, keren, mualaf, dan hasil karya seninya cakeeeep luar biasa, Subhanallah). Lalu ada juga cerita tentang tokoh inspirasional ketiga yang hadir juga di acara Experience Islam in the West ini.

Zzzt… Antara Kabel Otak dan Sebotol Bedak

Español: Logo FOX CRIME Español: Logo FOX CRIME

Inspirasi dari nonton Fox Crime

Inspirasi seringkali datang dari tempat-tempat aneh. Pagi ini saya sedang nonton sebuah film detektif di Fox Crime dan menjadi terinspirasi untuk belajar bahasa Arab, hari ini juga. Padahal cerita filmnya sama sekali tidak ada bau-bau Arabnya. Saya cuma terkesan dengan misteri dalam film itu yang dijalin dengan amat rapinya, sehingga membuat saya berpikir, kok bisa sih penulis ceritanya demikian pintar sampai bisa membuat cerita yang menjalin rapi kepahaman yang tinggi akan jiwa manusia, hukum, dan sastra? Siapapun ia, pasti pengetahuannya luas. Dan film ini cuma satu episode dari serial ini, yang cuma satu dari banyak serial lain di televisi. Yang artinya di Hollywood sana banyak sekali orang pintar. Itu baru di Hollywood, belum di Silicon Valley. Ngomong-ngomong, produser film ini adalah orang India. Masak sih cuma orang Barat dan India saja yang pintar? Ujung-ujungnya, menonton film itu membakar semangat saya untuk mempelajari kemampuan baru, hari ini juga, supaya saya tidak kalah dengan orang Barat dan India. Pilihan saya langsung jatuh pada bahasa, karena bahasa adalah jembatan komunikasi, dan melalui bahasa kita dapat melihat warna budaya lain. Dan saya memilih bahasa Arab karena dengan itu saya bisa memahami Al-Qur’an, juga memahami berbagai aspek budaya lain Timur Tengah.

Aneh ya cara otak kita bekerja? Penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan manusia itu bergantung pada 3 hal: genetika, gizi, dan stimulasi. Stimulasi membuat syaraf-syaraf otak kita saling berhubungan dan berkomunikasi. Semakin banyak hubungan dan komunikasi di otak seseorang, semakin cerdas orang tersebut. Makanya, dokter selalu menyarankan para orangtua untuk menyentuh dan berbicara dengan bayi yang baru lahir, bahkan sejak dalam kandungan, untuk menstimulasi sistem syarafnya. Pernah dengar kalau anak yang jago main musik biasanya juga jago matematika? Itu karena sistem syaraf saling berhubungan dan mempengaruhi, sehingga stimulasi di satu sisi kecerdasan pasti juga akan mempengaruhi kecerdasan yang lain.

Itulah makanya juga, salah satu prinsip saya dalam mendidik anak adalah meminimalkan larangan. Asalkan tidak bertentangan dengan agama dan moralitas atau membahayakan dirinya dan orang lain, ayo, coba saja semuanya.

Tadi malam misalnya, suami saya sedang bekerja di laptop, ketika ia menengok ke lantai, matanya langsung membelalak dan keluar suara beroktaf agak tinggi,:

“Ya Allah Bintaaangg… Main apa itu?!?! Kok Mamanya diem aja sih?!?”

Saya cuma ketawa. Dari tadi saya sudah tahu kalau si bocah sudah menuangkan satu botol besar body lotion ke lantai dan mainannya. Botol madu Winnie the Pooh kini penuh berisikan cairan lengket warna putih. Biasa saja kok. Kemarin dia baru saja menghabiskan satu botol bedak dan sampo yang masih penuh untuk bubble bath. Minggu sebelumnya sabun mahal saya yang jadi korban. Belum lagi tumpukan cucian saya yang bertambah karena baju-baju bagusnya ia pakai untuk “lap mobil”. Papanya kebetulan tidak tahu karena saat kejadian berlangsung sedang di kantor.

Buat saya, apalah nilai sebotol sampo, sabun, dan bedak dibandingkan nilai hubungan kabel di dalam kepala kecilnya yang sedang berkembang? Apalagi melihat senyumnya terkembang penuh percaya diri karena ia bisa “cuci mobil kaya Papa” dan “masak sama Uma”. It’s priceless! Ketika ia tumbuh besar pun, Insya Allah saya tidak akan melarang ataupun memaksanya menekuni ilmu atau profesi tertentu. Selain alasan-alasan yang sudah saya sebut di atas, saya juga percaya kalau setiap orang memiliki jalur, perjalanan dan misi kehidupan masing-masing di dunia. Profesi apapun–ilmuwan, pengusaha, sales, sutradara–saya yakin semuanya bisa membawa kontribusi positif untuk dunia ini. Everyone can make a difference.

Mungkin sudah pernah dengar sebelumnya: puncak peradaban Islam dahulu dicapai ketika tidak ada pengkotak-kotakan di dalam ilmu, karena semua ilmu jika diniatkan akan menjadi jalan menuju Tuhan. Ibnu Rusyid dan banyak rekan sejawatnya adalah ulama sekaligus ilmuwan. Masa Renaissance di Eropa pun mengenal Da Vinci yang insinyur sekaligus seniman. Di abad sekarang, ada orang-orang seperti Bobby Chinn, chef keturunan Mesir dan Cina-Amerika yang menghabiskan masa sekolah di Inggris, bekerja di Wall Street, pernah jadi stand-up comedian dan akhirnya membuka restoran di Vietnam. Ibarat jamuan pesta, Tuhan sudah menyediakan 1001 macam jalan dan cara untuk mengenalNya. Mengapa kita harus membatasi anak-anak, juga diri kita, untuk mengeksplorasi jalan-jalan tersebut?

Semoga jadi pertanyaan yang menggelitik. Sudah dulu ya, saya mau membereskan rumah, kemarin si kecil mengangkut potongan tempe dengan truk mainannya!

Belajar dari Harry Potter (1)

Harry Potter <3

Hikmah dari baca Harry Potter :p

Bagaimana mungkin seorang penyihir remaja belasan tahun mengalahkan penyihir terhebat sepanjang masa?

Dengan keberanian, semangat yang gigih, strategi yang terencana (tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan, tapi selalu ada), dan kerja sama yang baik.

Kali ini saya mau membahas yang terakhir dulu. Tim Harry Potter yang mengalahkan penjahat Voldemort bukanlah terdiri dari penyihir-penyihir terhebat, tapi adalah teman-teman Harry yang masing-masing punya kelemahan dan ciri khas. Ada Luna Lovegood yang eksentrik, Ron yang tidak percaya diri, Hagrid yang sembrono, dan lain-lain. Dengan segala kelemahan itu, mereka dipersatukan Harry dalam suatu pasukan yang bisa mengalahkan penyihir-penyihir hebat dan berpengalaman.

Pelajarannya: pemimpin yang baik dapat mengelola manusia dengan baik untuk mencapai visi yang diinginkan. Punya pasukan paling pintar dan hebat sedunia tidak akan ada manfaatnya kalau tidak bisa didayagunakan dengan baik. Sebaliknya, pasukan yang biasa-biasa saja bisa jadi hebat kalau dikelola dengan lihai.

Oya, coba perhatikan, pasukan Voldemort rata-rata punya sifat berlidah tajam (contoh: Draco Malfoy, Narcissa, dll) sementara para pahlawan utama di cerita Harry Potter -Dumbledore dan Snape- jarang berkata-kata. Pelajarannya: tidak usah takut dengan orang yang banyak omong, walaupun ‘tongkrongan’-nya seram. Rata-rata mereka seperti kata pepatah, “tong kosong nyaring bunyinya!”

5 Tips Sukses Membangun Toko Online

(Catatan: silakan copas atau re-post tulisan ini, tapi tolong backlink/cantumkan sumber dari blog ini yaa..)

Semakin banyak orang kini membuka toko berbasis Internet atau seringkali disebut juga dengan toko online (online store). Keunggulan utama membuka toko online adalah dengan modal yang relatif minim, bahkan nyaris nol, Anda dapat menjaring basis customer yang seluas-luasnya melalui media Internet. Selain itu, mendirikan toko online juga jauh lebih mudah dan cepat dibandingkan membangun bangunan toko offline. Munculnya platform CMS dan blog memungkinkan siapapun dapat membangun toko online sendiri tanpa bantuan programmer atau harus memahami bahasa pemrograman komputer. Belakangan, bahkan banyak orang yang memanfaatkan media Facebook sebagai media toko online. Singkatnya, siapapun Anda, dengan hanya bermodal koneksi Internet, pasti dapat mendirikan toko online.

Namun, karena amat mudahnya memasuki kancah usaha online, kompetisi antar toko online pun amat tinggi. Jika Anda berniat atau sedang menjalankan sebuah toko online, beberapa hal berikut sebaiknya menjadi perhatian Anda agar toko online yang Anda jalankan memiliki peluang yang baik untuk sukses dan bertahan lama.

1. Fokus pada segmen pasar atau segmen produk tertentu
Studi empiris baik di Indonesia maupun di luar negeri menunjukkan bahwa toko-toko online yang sukses dan bertahan lama adalah toko-toko online yang berfokus menyediakan produk dan jasa untuk kelompok pelanggan tertentu atau berfokus pada jenis produk tertentu yang sulit ditemui di tempat lain. Dengan kata lain, toko-toko online tersebut menciptakan pembeda atau diferensiasi. Diferensiasi amat penting bagi bisnis apapun. Di dunia online di mana toko Anda bersaing dengan ribuan bahkan jutaan toko lainnya, diferensiasi adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

2. Pastikan situs Anda ramah pengguna (user-friendly)
Salah satu kesalahan yang saya amati paling sering dilakukan oleh pebisnis online pemula adalah kurang memperhatikan faktor kemudahan pengguna (user- friendliness). Kesalahan ini sering terlihat dalam tampilan website yang kurang nyaman di mata, foto produk yang kurang besar atau kurang jelas (blur), keterangan produk yang kurang lengkap, informasi pembayaran atau pengiriman yang sulit ditemukan, serta shopping cart yang bertele-tele atau tidak berjalan lancar. Jika toko online Anda kurang ‘ramah’, bagaimana mungkin orang mau bertransaksi dengan Anda?

3. Pelajari hal-hal yang terkait dengan online marketing
Jika Anda sudah memutuskan untuk berbisnis secara online, mau tidak mau Anda harus membekali diri Anda dengan ilmu pemasaran online atau online marketing. Ilmu ini bisa Anda peroleh secara cuma-cuma dengan cara “googling” di Internet atau melalui berbagai kursus serta pelatihan yang kini banyak bermunculan. Apapun pilihan Anda, untuk meraih kesuksesan di dunia maya Anda harus mengakrabkan diri dengan istilah-istilah seperti hits, search engine optimization (SEO), clickthrough rates (CTR), cost-per-click (CPC), dan lain sebagainya.

4. Manfaatkan media jejaring sosial secara bijak
Sesuai namanya, jejaring sosial (social network) semacam Facebook dan Twitter layaknya digunakan untuk menciptakan jejaring (network). Jika Anda hanya memanfaatkan kehadiran Anda di jejaring sosial hanya untuk mempromosikan dagangan Anda, Anda mungkin akan mendapatkan satu-dua pelanggan dengan cara ini, tetapi lama kelamaan status atau tweet Anda hanya akan menjadi pengganggu (noise), tak ubahnya seperti hiruk pikuk di pasar: lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan. Lebih parah lagi, kehadiran Anda bisa dianggap tak ada bedanya dengan spam atau junk mail, sehingga orang lain akan lebih memilih untuk memblokir, unlike atau unfollow Anda daripada merasa terganggu. Nah lho!

Jejaring Anda akan jauh lebih menghargai kehadiran Anda jika status atau tweet Anda berisikan informasi yang bermanfaat bagi mereka. Sesekali, Anda dapat mengaitkan informasi yang Anda berikan secara langsung atau tidak langsung dengan dagangan Anda, atau disebut juga dengan soft-selling. Sebagai contoh, jika Anda menjadi pengikut sabun Lux di twitter dan facebook, secara rutin Anda akan mendapatkan aneka tips seputar kecantikan. Lain halnya jika Anda menjadi bagian dari jejaring Sour Sally Frozen Yogurt, Anda akan mendapatkan aneka joke yang mengundang senyum.
5. Ciptakan komunitas setia
Di dunia maya, orang dapat beralih dari bisnis Anda semudah menggerakkan jari-dalam arti sesungguhnya. Jika Anda ingin usaha Anda bertahan lama, Anda harus membina hubungan baik dengan para pelanggan dan calon pelanggan Anda, atau dalam dunia pemasaran disebut juga dengan memperpanjang customer lifetime value. Semakin panjang masa hubungan Anda dengan seorang pelanggan, semakin besar potensi nilai transaksi yang dapat Anda hasilkan dengannya.

Selain melalui jejaring sosial, Anda dapat membina hubungan baik dengan para customer Anda dengan cara menciptakan komunitas online yang menjadi wadah bagi customer Anda yang memiliki minat sama untuk saling berbagi informasi. Misalnya, jika toko online Anda menjual aneka helm, Anda dapat membuat forum penggemar kendaraan roda dua. Jika toko online Anda menjual aneka pernak-pernik balita, Anda dapat memulai blog atau forum terkait pendidikan anak. Terciptanya hubungan melalui suatu komunitas akan mengubah dinamika hubungan Anda dan customer Anda dari sekedar hubungan transaksional antara penjual dan pembeli menjadi lebih mendalam dan emosional.

Setelah membaca kelima tips di atas, mungkin Anda kini berpikir bahwa menjalankan usaha online tidak semudah yang Anda bayangkan sebelumnya. Faktanya, tidak ada kesuksesan yang dapat dicapai secara instan. Usaha apapun, baik online maupun offline, membutuhkan ilmu, waktu dan kerja keras agar memberikan hasil yang memuaskan. Jangan menyerah, saya doakan semoga Anda sukses dalam perjalanan Anda berwirausaha!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.